DAKWAH
DALAM KAJIAN POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Radha
Putri Awaliyah (B01219047)
Prodi
Komunikasi dan Penyiaran Islam
Fakultas
Dakwah dan Komunikasi
UIN Sunan Ampel Surabaya
Abstrak
Perjalanan
panjang agama Islam di Indonesia membentuk budaya Islam yang beragam. Di masa awal perkembangan Islam di Nusantara, selain berkat persentuhan dengan
berbagai budaya di Indonesia, hal
itu
juga terbentuk berkat afiliasi dengan berbagai negara terutama Barat dan Timur. Islam Nusantara yang menandai corak
keberagamaan, telah melewati proses panjang dalam aktivitas dakwah, di mana para pendahulu mampu
mengkomunikasikan pesan-pesan Islami di tengah budaya lokal masyarakat yang sebelumnya telah memiliki seperangkat
tradisi dan ritual kepercayaan non-Islami. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam tentang Dakwah dalam Kajian Pola Komunikasi
Lintas Budaya. Metode yang digunakan adalah
deskriptif kualitatif beserta kajian literatur yang mendukung. Adapun kajian
dengan pendekatan fenomenologis dan analisis wacana terhadap berbagai sumber literatur
dan media sosial, mengungkapkan fakta bahwa karakteristik keberagamaan Islam
Nusantara dapat menginspirasi gagasan-gagasan inklusif, dinamis, dan dialogis
bagi pelaku dakwah sebagai model pengembangan dakwah dengan pola komunikasi
lintas budaya. Mengingat dunia yang semakin global menjadikan sikap-sikap yang
lahir dari corak Islam Nusantara mampu melintasi ragam budaya yang berbeda
dalam dakwah dan syiar Islam.
Kata Kunci: Dakwah, Islam, Nusantara, Budaya.
Islam Nusantara merupakan merupakan model pemikiran, pemahaman, dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang dikemas melalui budaya maupun tradisi yang berkembang di wilayah Asia Tenggara. Islam Nusantara merupakan Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah bangsa dan negara (Bizawie dalam Sahal & Aziz, 2015; 240). Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya dapat diterima masyarakat Nusantara, tetapi juga layak mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya, yakni rahmatan li al-‘alamin. Pesan rahmatan li al-‘alamin ini menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah yang moderat, toleran, cinta damai, dan menghargai keberagaman (Bizawie dalam Sahal & Aziz, 2015: 242). Islam yang merangkul bukan memukul; Islam yang membina, bukan menghina; Islam yang memakai hati, bukan memaki-maki; Islam yang mengajak tobat, bukan menghujat; dan Islam yang memberi pemahaman, bukan memaksakan. Semenjak awal, Islam Indonesia memiliki corak dan tipologi tersendiri, yaitu Islam yang ramah dan moderat dan merupakan Islam garis tengah yang menganut landasan ideologi dan filosofis moderat (Sucipto, 2007: 18). Arus besar yang diwakili NU dan Muhammadiyah telah menjadi merek paten bagi gerakan Islam moderat, modern, terbuka, inklusif, dan konstruktif (Ma’arif, 2009: 304). Moderasi dan toleransi menjadi karakteristik mainstream anggota kedua organisasi tersebut . NU dan Muhammadiyah berperan sebagai penjaga gawang moderasi (Qomar, 2013: 153).
Oleh karena itu, Islam moderat mampu
bergerak secara fleksibel dalam menghadapi tantangan apa pun. Islam moderat
juga mampu merespons tradisi yang telah mengakar di masyarakat, sehingga Islam
moderat bertindak bijaksana. Historiografi lokal perlu diperhitungkan dalam
proses islamisasi dan intensifikasi pembentukan identitas dan tradisi Islam di
Nusantara (Azra, 2002: 15), sebab masyarakat Muslim lokal juga memiliki
jaringan kesadaran kolektif (network of
collective memory) tentang proses islamisasi yang berlangsung di kalangan
mereka, kemudian terekam dalam berbagai historiografi lokal. Proses islamisasi
di Indonesia terjadi dengan proses yang sangat pelik dan panjang. Penerimaan
Islam penduduk pribumi, secara bertahap menyebabkan Islam terintegrasi dengan
tradisi, norma dan cara hidup keseharian penduduk lokal (Huda, 2013: 61).
Perjumpaan keduanya menyebabkan terjadinya proses saling mengambil dan memberi
(take and give) antara ajaran Islam
yang baru datang dengan tradisi lokal yang telah lama mengakar di masyarakat.
Akhirnya, Islam dan tradisi lokal itu bertemu dengan masyarakat secara
individual maupun kolektif, tanpa bisa diklasifikasikan secara jelas mana yang
Islam dan mana produk lokal, sehingga tradisi itu berkembang, diwariskan dan
ditransmisikan dari masa lalu ke masa kini. Implikasinya, tradisi Islam lokal
hasil konstruksi ulang itu memiliki keunikan yang khas: ia tidak genuin Islam,
tidak genuin Kejawen, dan tidak juga genuin lainnya, sebab keduanya (Islam dan
tradisi lokal) benar-benar telah menyatu menjadi satu kesatuan, sebagai tradisi
baru yang menyerap unsur-unsur dari keduanya. Fenomena inilah yang biasanya
disebut akulturasi budaya.
Islam Indonesia memiliki karakter khusus
yang berlainan dengan Islam di kawasan lainnya, dalam batas-batas tertentu,
disebabkan kondisi geografis. Keunikan lainnya bagi Islam Nusantara, ditinjau
dari perspektif agama, Indonesia adalah bangsa Muslim paling besar di dunia,
namun secara religiopolitik dan ideologis, Indonesia bukanlah negara Islam. Kenyataan
ini dipandang sebagai kejanggalan dan kelemahan umat Islam Indonesia menurut
alur berpikir orang-orang Arab atau Timur Tengah. Sedangkan bagi
pemikir-pemikir Islam Indonesia, itu justru sebagai kearifan mereka dalam
menyiasati perpolitikan Indonesia. Negara Indonesia meskipun berpenduduk
mayoritas Muslim, tetapi banyak juga orang-orang non-Muslim yang ikut berjuang
merebut kemerdekaan Indonesia. Eksistensi mereka juga harus diperhatikan ketika
Indonesia berhasil merdeka dan mendirikan Negara. Maka tokoh-tokoh Islam
memandang bahwa yang terpenting ajaran-ajaran Islam dapat dijalankan dengan
baik di bumi Indonesia ini tanpa harus secara formal menjadikan Negara Islam,
karena mereka menekankan maqashid alsyari’ah. Cara demikianlah yang disepakati
mayoritas Islam Indonesia. Keunikan lainnya yang terdapat pada Islam Nusantara
bahwa kendati pun sebagai salah satu bangsa Muslim terbesar di dunia, Indonesia
merupakan bangsa yang paling sedikit mengalami arabisasi dibanding negara-negara Muslim lainnya. Kawasan Nusantara
ini merepresentasikan salah satu bagian dunia Islam yang paling sedikit
mengalami arabisasi. Namun,
perkembangan Islam di Asia Tenggara tidak dapat dipisahkan dari perkembangan
Islam di Timur Tengah (Azra, 2002: 90). Begitu akrabnya Islam dengan budaya
(tradisi) lokal, Islam Nusantara tidak terlalu tertarik melakukan arabisasi. Misalnya dalam menggunakan
pakaian shalat, mereka lebih suka memakai sarung dan songkok daripada jubah dan
surban; penyebutan tokoh agama, mereka lebih suka menyebut kiai, ajengan, tuan
guru atau buya daripada syaikh maupun ulama; dalam menyebut tempat shalat,
sebagian besar Muslim Indonesia lebih cenderung menyebut langgar daripada
mushalla; dalam menyebut hari peringatan kelahiran institusi, mereka lebih suka
menyebut dies natalis daripada dies maulidiyah; dan sebagainya. Oleh karena
itu, Islam Nusantara ini merupakan cara melaksanakan Islam melalui pendekatan
kultural, sehingga merawat dan mengembangkan budaya (tradisi) lokal yang sesuai
dengan ajaran Islam, dan berusaha mewarnai budaya (tradisi) lokal itu dengan
nilai-nilai Islam manakala budaya (tradisi) tersebut masih belum senafas dengan
Islam. Islam sangat menghargai kreasi-kreasi kebudayaan masyarakat, sejauh
tidak menodai prinsip-prinsip kemanusiaan, ia tetap dipertahankan. Namun, jika
budaya (tradisi) itu mencederai martabat kemanusiaan, ia harus ditolak. Maka
Islam Nusantara ini tidak menghamba pada tradisi karena tidak kebal kritik.
Hanya tradisi yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan yang perlu dipertahankan
(Ghazali dalam Sahal & Aziz, 2015: 113). Mekanisme kerja Islam Nusantara
ini melalui pendekatan adaptifselektif dengan menggunakan filter yang ketat
terhadap budaya (tradisi) lokal yang telah mengakar di masyarakat. Dengan
pendekatan ini, Islam diharapkan berperan aktif mempengaruhi budaya maupun
tradisi lokal tersebut.
Maka, dapat disimpulkan jika Islam Nusantara merupakan model pemikiran, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Islam melalui pendekatan kultural, sehingga mencerminkan identitas Islam yang bernuansa metodologis. Islam Nusantara ini merefleksikan pemikiran, pemahaman, dan pengamalan Islam yang moderat, inklusif, toleran, cinta damai, menyejukkan, mengayomi dan menghargai keberagaman (kebhinnekaan).
DAFTAR PUSTAKA
Bizawie, Zainul Milal, Islam Nusantara Sebagai Subjek dalam Islamic Studies: Lintas Diskursus dan Metodologis. Dalam
Akhmad Sahal dan Munawir Aziz (Eds.), Islam Nusantara dari Ushul Fiqh hingga Paham
Kebangsaan, Bandung: Mizan, 2015.
Sucipto, Hery (Eds.), Islam Madzhab Tengah Persembahan 70 Tahun Tarmizi Taher, Jakarta:
Grafindo Khazanah Ilmu, 2007.
Qomar, Mujamil, Fajar
baru Islam Indonesia? Kajian komprehensif Atas Arah Sejarah dan Dinamika
Intelektual Islam Nusantara, Bandung: Mizan, 2012.
Maarif, Ahmad Syafii, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan Sebuah Refleksi
Sejarah, Bandung: Mizan Bekerjasama dengan Maarif Institute, 2009.
Huda, Nor, Islam
Nusantara Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia, Yogyakarta: Arruzz
Media, 2013.
Azra, Azyumardi, Islam
Nusantara Jaringan Global dan Lokal Bandung: Mizan, 2002.

keren... foluskan putri
BalasHapus