PENGUMPULAN
AL-QURAN PADA MASA ABU BAKAR DAN UMAR
Disusun
Oleh:
Rada
Putri Awaliyah (B01219047)
Dosen
Pengampu:
Prof.
Dr. Moh. Ali Aziz,M.Ag.
Asisten
Dosen:
Ati’
Nursyafa’ah M.Kom.I
Komunikasi
Dan Penyiaran Islam
Universitas
Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
2019
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur, dan kemuliaan
bagi Allah serta Nabi SAW yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah
sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi al-Quran.
Seperti diketahui bersama, al-Quran sebagai kitab suci umat Islam tidak pernah
habis dibicarakan dari berbagai segi. Karena itu, dalam makalah ini akan
dibahas tentang Pembukuan al-Quran pada Masa Abu Bakar dan Umar r.a.
Saya mengucapkan terima kasih kepada
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Selaku dosen
mata kuliah Studi al-Quran, yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan
makalah ini dan seluruh pihak yang membantu selama proses pembuatan makalah.
Dalam
makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang
membangun sangat berguna demi penyusunan yang lebih baik.
Surabaya,
31 Agustus 2019
Rada Putri Awaliyah
DAFTAR ISI
BAB I
PEMBAHASAN
Proses
pengumpulan al-Quran (jam’ul Quran)
oleh para ulama adalah salah satu dari dua pengertian berikut:
Pertama;
Pengumpulan dalam arti hafazahu
(menghafalnya dalam hati). Jumma’ul Quran
(pada penghafalnya, yaitu orang-orang yang menghafalkannya di dalam hati).
Inilah makna yang dimaksudkan dalam firman Allah kepada Nabi, dimana Nabi
senantiasa menggerak-gerakkan kedua bibir dan lidahnya untuk membaca al-Quran.
Ketika al-Quran itu turun kepadanya sebelum Jibril selesai membacakannya karena
hasrat besarnya untuk menghafal al-Quran.
لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ
لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ
فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ
“Janganlah engkau (hai Muhammad) -karena hendak cepat menghafal al-Quran
yang diturunkan kepadamu-menggerakkan lidahmu membacanya (sebelum selesai
dibacakan kepadamu). Sesungguhnya Kami-yang berkuasa mengumpulkan al-Quran itu
(dalam dadamu), dan menetapkan bacaannya (pada lidahmu); Oleh itu, apabila Kami
telah menyempurnakan bacaannya (kepadamu, dengan peantaraan Jibril), maka
bacalah menurut bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya kepada Kami-lah terserah urusan
menjelaskan kandungannya (yang memerlukan penjelasan).” (QS. al-Qiyamah [75]: 16-19)
Ibnu
Abbas mengatakan, bahwa Rasulullah SAW sangat ingin segera menguasai al-Quran
yang diturunkan. Ia menggerakkan kedua lidah dan bibirnya karena takut apa yang
turun itu akan terlewatkan. Ia ingin segera menghafalnya. Maka Allah
menurunkan, “Janganlah engkau (hai
Muhammad) -karena hendak cepat menghafal al-Quran yang diturunkan kepadamu-
menggerakkan lidahmu untuk membacanya (sebelum selesai dibacakan kepadamu).
Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya dan membacakannya.
Kedua;
Pengumpulan dalam arti kitabuhu kullihi
(penulisan al-Quran semuanya) baik dengan memisah-misahkan ayat-ayat dan
surat-suratnya, atau menerbitkan ayat-ayatnya semata dalam setiap surat ditulis
dalam satu lembaran yang terpisah, ataupun menerbitkan ayat-ayat dan
surat-suratnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul yang menghimpun semua
surat, sebagiannya ditulis sesudah sebagian yang lain.[1]
Di
bawah ini adalah pengumpulan al-Quran yang dilakukan pada masa sahabat Nabi:
Setelah Nabi SAW wafat, Abu Bakar al-Shiddiq
diangkat menjadi pengganti Nabi SAW.
Pada masa pemerintahannya sering terjadi pemberontakan serta munculnya
Musailimah yang mengaku sebagai Nabi baru. Hal ini tentu sangat merisaukan umat
Islam, sehingga Abu Bakar memerintahkan para sahabat untuk menumpas Musailimah
dan para pengikutnya yang dipimpin oleh Khalid bin Walid[2]. Maka
terjadilah perang Yamamah pada tahun 12 Hijriyah. Peperangan tersebut
melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal al-Quran. Meski Nabi palsu berhasil
ditumpas. Namun, banyak sahabat penghafal al-Quran mati syahid. Dalam
peperangan Yamamah jumlah yang terbunuh dari pihak musuh adalah 10.000 orang
dan ada juga yang meriwayatkan 21.000 orang. Sedangkan dari pihak umat Islam
yang terbunuh adalah 600 orang, ada pula yang mengatakan 500 orang. Diantara
yang terbunuh banyak terdapat sahabat Nabi yang senior. Tujuh puluh (70)
diantaranya adalah para qori’.
Umar bin Khattab yang perihatin akan kejadian itu
terdorong hatinya untuk melestarikan al-Quran. Karena bukan tidak mungkin jika
para penghafal al-Quran gugur satu-persatu maka al-Quran juga akan hilang di
muka bumi. Akhirnya Umar yang jenius mengusulkan kepada Abu Bakar al-Shiddiq
agar membukukan naskah-naskah al-Quran yang berserakan di tangan para sahabat[3].
Ide tersebut awalnya ditolak oleh khalifah Abu Bakar dengan alasan hal-itu
tidak pernah dilakukan oleh Nabi (atau bisa dikatakan bid’ah). Namun, setelah
diadakan diskusi dan pertimbangan-pertimbangan secara seksama, ide Umar
akhirnya diterima oleh Abu Bakar. Setelah itu Khalifah memerintah Zaid bin
Tsabit agar segera menghimpun ayat-ayat al-Quran dalam satu mushaf.
Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar
sebelum itu. Namun, keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid bisa
menerima dengan lapang dada perintah penulisan al-Quran itu.
Zaid bin Tsabit berkata, “Abu Bakar memanggilku
untuk menyampaikan berita mengenai korban Perang Yamamah. Ternyata Umar sudah
ada di sana. Abu Bakar berkata, “Umar telah datang kepadaku dan mengatakan,
bahwa perang di Yamamah telah menelan banyak korban dari kalangan qurra’ dan ia khawatir jika terbunuhnya
para qurra’ itu juga akan terjadi di
tempat-tempat lain, sehingga sebagian besar al-Quran akan musnah. Ia
menganjurkan agar aku memerintahkan seseorang untuk mengumpulkan al-Quran. Maka
aku katakan kepadanya, bagaimana mungkin kita akan melakukan sesuatu yang tidak
pernah dilakukan oleh Rasulullah? Tetapi Umar menjawab dan bersumpah, “Demi Allah,
perbuatan tersebut baik.“ Ia terus menerus membujukku hingga Allah membukakan
pintu hatiku untuk menerima usulnya, dan akhirnya aku sependapat dengan Umar.“ Abu
Bakar berkata kepadaku lanjut Zaid, “Engkau seorang pemuda yang cerdas dan kami
tidak meragukan kemampuanmu. Engkau telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah.
Oleh karena itu carilah al-Quran dan kumpulkanlah.” Jawab Zaid, “Demi Allah,
sekiranya mereka memintaku untuk memindahkan gunung, rasanya tidak lebih berat bagiku
daripada perintah mengumpulkan al-Quran. Karena itu aku menjawab, “Mengapa Anda
berdua ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah?” Abu
Bakar tetap membujukku sehingga Allah membukakan hatiku sebagaimana ia tealah
membukakan hati Abu Bakar dan Umar. Maka aku pun mulai mencari al-Quran. Kukumpulkan
lembara-lembaran al-Quran dari pelepah korma, kepingan-kepingan batu dan dari
hafalan para penghafal, sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surat at-Taubah yang
berada pada Abu Khuzaimah Al-Anshari yang tidak kudapatkan pada orang lain,
yaitu ayat ‘Laqad jaa’akum rasulun min
anfusikum...’ hingga akhir ayat dalam at-Taubah: 128[4]. Seperti
yang kita ketahui bahwa al-Quran sudah tercatat sebelum masa itu, yaitu pada
masa Nabi, tetapi masi berserakan pada kulit-kulit, tulang, dan pelepah korma.
Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut dikumpulkan
dalam satu mushaf dengan ayat-ayat dan surat-surat yang tersusun seta
dituliskan dengan sangat hati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan itu al-Quran
diturunkan.
Zaid bin Tsabit sangat hati-hati dalam menjalankan
tugas tersebut, sekalipun ia seorang penulis wahyu yang utama dan hafal seluruh
al-Quran. Dalam menjalankan tugasnya, Zaid bin Tsabit berpegang pada dua hal, yaitu;
a) Ayat-ayat
al-Quran yang ditulis di hadapan Nabi dan yang disimpan di rumah Nabi.
b) Ayat-ayat
yang dihafal oleh para Sahabat yang hafal al-Quran.[5]
Zaid tidak mau menerima tulisan ayat-ayat al-Quran
kecuali jika disaksikan oleh dua orang saksi yang adil dan mengatakan bahwa
ayat-ayat itu benar-benar ditulis dihadapan Nabi SAW atas perintah atau
petunjuknya.[6]
Diriwayatkan
oleh Ibn Abu Daud melalui Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar
berkata pada Umar dan Zaid, “Duduklah kamu berdua di pintu masjid. Bila ada
yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah,
maka tulislah.”
Para
perawi hadis ini orang-orang terpercaya, sekalipun hadits tersebut munqati, (terputus). Ibn Hajar
mengatakan,
“Yang dimaksudkan dengan dua orang
saksi adalah hafalan dan catatan.” [7]
As-Sakhawi
menyebutkan dalam kitab Jamalul Qurra’, yang dimaksudkan ialah kedua saksi itu
menyaksikan bahwa catatan itu ditulis dihadapan Rasulullah. Atau dua orang
saksi itu menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengan salah satu cara yang
dengan itu Alquran diturunkan.
Abu Syamah
berkata, ”Maksud mereka adalah agar Zaid
tidak menuliskan Alquran kecuali
diambil dari sumber asli yang dicatat dihadapan Nabi, bukan semata-mata dari hafalan.
Oleh sebab itu Zaid berkata tentang akhir surah At -Taubah,”Aku tidak
mendapatkannya pada orang lain”, sebab ia tidak menganggap cukup hanya
didasarkan pada hafalan tanpa adanya catatan.”[8]
Adapun pertimbangan memilih Zaid bin Tsabit untuk
tugas yang sangat mulia tersebut adalah:
1. Zaid
merupakan salah seorang sahabat yang dipromosikan Nabi SAW sebagai pakar al-Quran.
2. Akhlaknya
yang tidak pernah tercemar menyebabkan Abu Bakar memberi pengakuan secara
khusus dengan kata-kata “ Kami tidak pernah memiliki prasangka negatif padamu”.
3. Kecerdasannya
menunjukkan kompetensi dirinya.
4. Pengalamannya
sebagi penulis wahyu pada masa Nabi SAW.
5. Zaid
adalah salah seorang sahabat yang sempat mendengar bacaan al-Quran malaikat
Jibril bersama Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan.[9]
Tugas menghimpun al-Quran itu dilaksanakan oleh Zaid
bin Tsabit dan timnya dalam waktu kurang lebih satu tahun, yakni antara sesudah
terjadi perang Yamamah dan sebelum wafat Abu Bakar r.a.
Berikut langkah-langkah yang dilakukan Zaid bin Tsabit
dalam mengumpulkan al-Quran:
1. Dengan
kewenangan dari kepala negara, tim mengumpulkan naskah yang tersebar di tangan
para sahabat. Khalifah Abu Bakar juga memberikan naskah miliknya. Tim bekerja
secara aktif, tidak sekedar menunggu. Bilal bin Rabbah, sebagai anggota tim
pernah berkeliling untuk mencari catatan al-Quran, sementara Umar bin Khattab
bertugas menunggu dan menjaga kantor tim pengumpulan al-Quran di Masjid
Madinah.
2. Memasang
pengumuman untuk menggali dukungan dan keterlibatan masyarakat. Pengumuman ini
diletakkan di masjid Madinah.
3. Menghadirkan
dua orang saksi di bawah sumpah pada tiap naskah bahwa naskah tersebut
benar-benar bersumber dari Nabi SAW. Saksi itu harus mengetahui secara langsung
penulisan ayat di hadapan Nabi SAW.
4. Mengumpulkan
naskah dari semua ragam dialek. Karenanya, salinan Zaid bin Tsabit sangat
tebal. Bisa jadi, ada ayat yang ditulis dan diberi catatan dialeknya.
5. Melakukan
pemeriksaan ulang naskah yang terkumpul dengan hafalan tim. Ini dilakukan
seimbang: terkadang naskah diteliti melalui hafalan, dan terkadang hafalan
diperkuat dengan catatan. Zaid pernah menemukan kekurangan naskah akhir surat
Al-Taubah berdasarkan hafalannya, ternyata naskah itu berada di tangan Abu
Khuzaimah Al-Anshari.
6. Menulis
kembali naskah dari macam-macam benda kertas oleh Zaid dalam lembaran-lembaran
setelah pengumpulannya sampai lengkap dan sempurna.
7. Selaku
ketua tim, Zaid melaporkan kerja tim kepada Khalfah Abu Bakar sekaligus
menyerahkan hasilnya yang berupa lembaran-lembaran al-Quran.[10]
Kerja Zaid bin Tsabit tersebut mendapat dukungan
para sahabat serta dilaksanakan dalam waktu yang singkat, yakni kurang lebih
satu tahun padahal, kerja ini memerlukan ketelitian yang mendalam, kepercayaan
yang besar, dan ketekunan yang tinggi. Sedikit kecerobohan akan berdampak
fatal. Jika kerja Zaid berlarut-larut, maka ada kemungkinan hilangnya naskah di
tangan sahabat. Bila kredibilitas Zaid beserta tim dinilai buruk oleh
masyarakat, maka sulit mendapatkan dukungan penuh, sehingga berdampak pada
kesulitan kerja. Jika Zaid menyampaikan aneka dialek dengan memiih dialek
Quraisy saja, maka ada kesan upaya menghilangkan berbagai bacaan yang berasal
dari Nabi SAW. Dengan adanya saksi, sahabat yang memiliki naskah tidak akan
bisa berdusta. Sesungguhnya, dengan hafalan dan catatannya, bisa saja Zaid
langsung menulis kembali di atas kertas lembaran-lembaran. Namun, hal itu tidak
dilakukan olehnya. Mengingat kerja pengumpulan naskah al-Quran perlu melibatkan
banyak orang agar tidak ada kecurigaan di belakang hari (Shubhi Shalih,
1977:75-77).[11]
Mushaf al-Quran yang diterbitkan oleh Zaid bin
Tsabit dan timnya itu disimpan oleh Abu Bakar r.a. setelah Abu Bakar r.a. wafat
mushaf tersebut disimpan oleh Umar bin Khattab r.a. Sebelum wafat, Umar
berpesan pada putrinya Khafsah agar menyimpan mushaf al-Quran itu. Amanah
tersebut diberikan kepada Khafsah dengan pertimbangan bahwa Khafsah adalah
istri Nabi Muhammad SAW yang hafal al-Quran dan pandai baca tulis.[12]
Menurut Said Agil Husnin Al-Munawwar (2002), terdapat beberapa karakteristik dalam
penulisan al-Quran pada masa Abu Bakar, yaitu sebagai berikut:
1.
Seluruh ayat al-Quran dikumpulkan dan ditulis dalam satu
mushaf berdasarkan penelitian yang cermat dan seksama.
2.
Meniadakan ayat-ayat al-Quran yang telah mansukh.
3.
Seluruh ayat yang ada telah diakui kemutawattirannya.
4.
Dialek Arab yang dipakai dalam pembukuan ini berjumlah 7
(qira’at) sebagaimana yang ditulis pada kulit unta di masa Rasulullah SAW
Dengan demikian tercatatlah dalam sejarah bahwa Abu
Bakar sebagai orang pertama yang menghimpun al-Quran dalam satu mushaf dan Umar
adalah orang pertama yang mempunyai ide menghimpun al-Quran serta Zaid bin
Tsabit sebagai orang pertama yang melaksanakan penulisan dan penghimpunan al-Quran
dalam satu mushaf.
Sekalipun ada mushaf-mushaf pribadi milik sebagian
sahabat seperti mushaf Ali, mushaf Ubay, dan mushaf Ibn Mas’ud, maka ia tidak
seperti mushaf ini (yang ada pada Abu Bakar). Tulisan mushaf-mushaf itu tidak
ditulis dengan ketelitian dan kecermatan, pengumpulan, penyusunan, pembatasan
pada ayat-ayat yang tidak dinaskh tilawahnya (dihapus bacaannya) dan
kesepakatan atasnya sebagaimana apa yang ada pada mushaf Abu Bakar. Maka
kekhususan-kekhususan inilah yang menjadikan pengumpulan al-Quran pada zaman
Abu Bakar menjadi istimewa dan lain dari yang lain. (Wahid, 2012)
Dalam masalah
pengumpulan al-Quran ini, sedikitnya ada tiga pertanyaan yang perlu mendapat
perhatian dan dijawab secara terperinci, yaitu:
1. Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan al-Quran
padahal masalahnya sudah jelas baik dan diwajibkan oleh islam?
Jawaban:
Hal ini karena Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah terhadap usaha
menghayati dan menghafal al-Quran, dan mencukupkan diri dengan hafalan yang
tidak mantap. Dikhawatirkan juga mereka hanya berpegang pada apa yang ditulis
di mushaf, sehingga akhirnya mereka lemah untuk menghafal al-Quran.
2. Mengapa Abu Bakar memilih Zaid bin Tsabit sebagai ketua?
Jawaban:
Karena Zaid adalah orang yang betul-betul mempunyai pembawaan dan kemampuan
yang tidak dimiliki sahabat yang lain. Dalam hal mengumpulkan al-Quran. Ia
adalah sahabat yang hafidz, ber-IQ tinggi, sekretaris wahyu yang menyaksikan
sajian akhir wahyu, wara’ serta besar tanggung jawabnya, lagi sangat teliti.
3. Apakah maksud kata-kata Zaid bin Tsabit “Sampai aku
menemukan akhir surat At-Taubah dari Abu Khuzaimah al-Anshari yang tidak ada
pada orang lain”.
Jawaban:
Hal tersebut tidak berarti bahwa ayat ini tidak ada pada hafalan Zaid dan
sahabat-sahabat yang lain, karena mereka menghafalnya.
Akan
tetapi, beliau bermaksud hendak mengkompromikan antara hafalan dan tulisan serta
dalam rangka kehati-hatian, dan karena langkah lurus itulah, sempurna pulalah al-Quran.[13]
Latar belakang pengumpulan al-Quran pada masa Umar
bin Khattab adalah dengan adanya perang Yamamah pada masa pemerintahan Abu
Bakar r.a. yang mana kejadian itu menelan banyak korban umat islam terutama
para penghafal al-Quran.
Umar yang merasa prihatin akan kejadian itu akhirnya
menemui Abu Bakar yang sedang dalam keadaaan sedih dan sakit. Umar
bermusyawarah dengannya supaya mengumpulkan al-Quran karena khawatir akan
lenyap dengan banyaknya huffaz yang gugur.[14]
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada
awalnya Abu Bakar menolak ide Umar karena belum pernah dilakukan Nabi
sebelumnya. Namun, setelah dijelaskan Umar tentang nilai-nilai positifnya. Abu
Bakar menyetujui usulan Umar, dan Allah melapangkan dada Abu Bakar untuk
melaksanakan tugas mulia tersebut. (Al-Shiddiqiey dan Hasbi, 2000)
Kemudian, Abu Bakar mengutus utusan kepada Zaid bin
Tsabit dikarenakan kedudukannya qira’at, tulisan, pemahaman, kecerdasan, dan
kehadirannya pada penyimakan (memperlihatkan bacaan al-Quran kepada Nabi) yang
terakhir kali, dan dia menceritakan kepadanya perkataan Umar bin Khattab, akan
tetapi Zaid menolak hal itu sebagaimana Abu Bakar karena merasa ragu. Maka
keduanya pun (Abu Bakar dan Umar r.a) bertukar pendapat dengan Zaid bin Tsabit,
kemudian ia pun dilapangkan Allah dadanya sebagaimana Allah melapangkan dada Abu
Bakar dan Umar. (Wahid, 2012)
Dengan kerja keras, dan keyakinan yang
sungguh-sungguh sekitar satu tahun Zaid bin Tsabit dapat menyelesaikan tugas
mengumpulkan al-Quran. Kemudian al-Quran yang telah selelsai dijadikan satu mushaf
itu disimpan oleh Abu Bakar sampai beliau wafat.
Sepeninggal Abu Bakar, maka kekhalifahan diduduki
oleh Umar bin Khattab r.a. demikian juga halnya mushaf yang dahulunya disimpan
Abu Bakar maka setelah Umar menjadi khalifah mushaf tersebut juga berpindah
tangan kepada Umar. Pada masa khalifah Umar ini tidak terlalu membicarakan al-Quran
melainkan lebih memfokuskan kepada pengembangan ajaran Islam dan wilayah
kekuasaan Islam. Pada masa ini al-Quran juga sudah dipahami secara kontekstual
bukan hanya tekstual.
Pada masa Umar bin Khattab terjadi penyebaran al-Quran
ke wilayah yang sudah memeluk agama Islam. Penyebaran ini bukan sekedar
mengirimkan lembaran-lembaran mushaf, tetapi juga disertai dengan
pengajarannya. Khalifah Umar mengirimkan sekitar 10 orang sahabat ke Basrah
untuk mengajarkan al-Quran, Umar juga mengirimkan Ibn Mas’ud ke Kufah dengan
tujuan yang sama, Umar sangat menekankan pentingnya mengajarkan al-Quran dengan
suhuf yang dibuat sebelumnya.
Suatu ketika seorang sahabat yang mengabarkan bahwa
ada orang yang mendiktekan al-Quran kepada masyarakat di Kufah, mendengar hal
itu Umar marah besar. Namun, setelah mengetahui jika orang yang mendiktekan al-Quran
Adalah Ibn Mas’ud Umar menjdi tenang. Karena ia teringat akan kepandaian dan
kemampuan Ibn Mas’ud.
Umar sangat memiliki peran penting terhadap sejarah
pengumpulan al-Quran. Beliau adalah orang pertama yang memiliki ide untuk
mengumpulkan al-Quran, beliau juga yang memberi penjelasan dan membujuk Abu
Bakar serta Zaid agar mau ikut dalam proses pengumpulan al-Quran.
Meski selanjutnya dituntaskan oleh Usman bin Affan hingga
namanya kerap kali disandingkan bersama mushaf (mushaf Usmani). Namun, sebagaimana ada dalam pepatah- Umar lah
yang medapat sebuah keutamaan karena ia adalah yang memulai dan menggagas ide
ini.
BAB II
KESIMPULAN
Penulisan dan pengumpulan al-Quran
pada masa Abu Bakar dan Umar bin Khattab dilakukan untuk menghimpun serta
menyalin kembali catatan-catatan serta tulisan-tulisan yang ada menjadi satu
mushaf dengan tertib surat-suratnya menurut urutan wahyu. Faktor pendorong
pengumpulan ini adalah kekhawatiran akan adanya kemungkinan hilangnya sesuatu
dari al-Quran disebabkan banyaknya qori’ yang gugur di medan perang. Meski
awalnya terdapat berbagai penolakan karena hal ini belum pernah dilakukan Nabi.
Namun, dengan bantuan Allah Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit berhasil dilapangkan
dadanya dan mau menerima usulan Umar agar menjadikan al-Quran yang berserakan
menjadi satu mushaf.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Munawwar,
Said Agil Husin. 2002. al-Quran Membangun
Tradisi Keshalehan Hakiki. Jakarta: Ciputat Press.
Ash.
Shiddieqy dan Hasbi, Teungku Muhammad. 2000. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Quran dan Tafsir. Semarang: PT.
Pustaka Rizki Putra.
Aziz,
Moh. Ali. 2018. Mengenal Tuntas al-Quran.
Surabaya: Imtiyaz.
Drajat,
Amroeni.2017.Pengantar Ilmu-Ilmu Al-Quran. Depok: Kencana.
Muhammad
Ali Ash-Shabbuniy.1998. Studi al-Quran.
Terjemahan Asli. Bandung: CV Pustaka Setia.
Musyafa’ah,
Sauqiyah, dkk. Studi al-Quran.
Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.
Nasruddin.
2015. Sejarah Penulisan al-Quran. Makassar:
Ar-Rihlah.
Sujono.
Abu Sufyan. 2011. Pengumpulan al-Quran pad masa Abu Bakar r.a.
Syaikh
Manna Al-Qaththan. 2015. Pengantar Studi
Ilmu al-Quran. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.
Usman,
Saiful Huda, dkk. 2016. Sejarah
Kebudayaan Islam. Jakarta: Ladunni Press.
Wahid,
Saad Abdul. 2010. Penghimpun al-Quran
pada Masa Abu-Bakar.
Zuhdi,
Achmad. 2014. Bahan Ajar Studi al-Quran.
Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.
[1] Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu al-Quran. (Jakarta
Timur : Pustaka Al-Kautsar, 2015), H. 151.
[2] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas al-Quran. (Surabaya:
Imtiyaz, 2018), H. 49.
[4] Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu al-Quran. (Jakarta
Timur : Pustaka Al-Kautsar, 2015), H. 159-160.
[5] Sauqiyah Musyafa’ah,
dkk, Studi al-Quran. (Surabaya: UIN
Sunan Ampel Surabaya Press, 2013), H. 41.
[6] Sauqiyah
Musyafa’ah, dkk, Studi al-Quran. (Surabaya: UIN Sunan Ampel Surabaya Press, 2013),
H. 41-42.
[14] Muhammad Ali
Ash-Shaabuuniy, Studi Ilmu al-Quran. (Bandung:
CV Pustaka Setia,1998), H.100.

Terima kasih karena sudah membagi ilmunya ... Postinganya Sangat bermanfaat .. semangat terus 😃
BalasHapusTerima kasih karena sudah membagi ilmunya ... Postinganya Sangat bermanfaat .. semangat terus 😃
BalasHapusSemangat terus kak agar masyarakat bisa mengambil ilmu dari karya kakak
BalasHapusSemangat terus kakak, semoga ilmunya terus mengalir yah tidak sampai disini saja
BalasHapusSemangaat..
BalasHapusSangat membantu sekali dengan postingan ini kita yang membaca bisa menambah wawasan kita,terima kasih
BalasHapusTerima kasih sudah berbagi ilmunyaa selalu semangat untuk berbagi ilmu kelainnya
BalasHapusMasyaallah, Menambah ilmu Pengetahuan. Semoga bermanfaat dan barakah untuk kita semua. Aamiin Allahhumma Aamiin. Dan selalu semangat
BalasHapusMakalahnya sangat membantu untuk kita yang tidak mengetahui materi ini, semoga bermanfaat bagi para pembaca, dan untuk penulisan nya mungkin bisa ditambahkan lagi referensinya.terimakasih
BalasHapusCakep,,,,bagus sangat menambah wawasan mungkin bisa disebutkan salah satu Qori' dari yg 70 syahid itu disertakan namanya salah satu saja
BalasHapustingkatkan terus minat tulis menulis mu rada....supaya menjadi orang yang bermanfaat...aminnnn
BalasHapusJelas, kongkrit.
BalasHapusSemoga bermanfaat bagi penulis dan pembacanya..
Terimakasih sudah berbagi pengetahuan.
Sudah bagus, dan semoga bermanfaat bagi pembaca. Kritik dan saran lebih di teliti lagi dari segi tata bahasa dan sebaiknya kutipan dari buku di sertakan. Terima kasih
BalasHapusSudah bagus, dan semoga bermanfaat bagi pembaca. Kritik dan saran lebih di teliti lagi dari segi tata bahasa dan sebaiknya kutipan dari buku di sertakan. Terima kasih
BalasHapusSudah bagus, dan semoga bermanfaat bagi pembaca. Kritik dan saran lebih di teliti lagi dari segi tata bahasa dan sebaiknya kutipan dari buku di sertakan. Terima kasih
BalasHapusGo ahead Rada, muridku yg pinter n energik. Semoga tetap bisa mempertahankan prestasimu sampai tercapai cita cita.
BalasHapusGo ahead Rada, muridku yg pinter n energik. Semoga tetap bisa mempertahankan prestasimu sampai tercapai cita cita.
BalasHapusSangat membantu kak artikelnya, semoga kedepannya kakak bisa membuat artikel2 seperti ini lagi
BalasHapusMaterinya bagus. Sangan cocok buat referensi tugas kuliah. Semangat yaa:)
BalasHapusGud lah...
BalasHapusJelas.. dan bermakna.. sangat memuaskan.. terimaksih untuk ilmu yang anda sebarkan..
BalasHapusSudah jelas makna dan manfaat ilmunya semoga materi tersebut dapat dikenang untuk selamanya.
BalasHapusSangat membantu. Semoga bermanfaat bagi pribadi dan pembaca. Lanjutkan dan tetap semangat dalam berkarya
BalasHapusAlhamdulilah sangat bermanfaat ini blog tepat cocok sekali buat refensi
BalasHapusradhaaaaaa, keren banget, semoga bisa menginspirasi pembaca, bisa bermanfaat untuk orang lain, semoga pemakalah juga bisa terus belajar agar wawasan bertambah sehingga selanjutnya bisa menjadi penulis yang profesional
BalasHapusRadha sudah bagus,,nalar nya sudah mulai luas,,tinggal di tingkatkan lagi😊
BalasHapusTerimakasih Dalam meningkatkan kualitas pendidikan kita telah ambil ilmu dari blog ini. Semoga Ini menjadi perubahan menuju pendidikan yang lebih baik..
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusLove love love love love love love love love love love
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusalhamdulillah, tulisan ini sangat bermanfaat bagi saya. saya jadi tau bagaimana proses pengumpulan al quran masa abu bakar
BalasHapusSangat bermanfaat, dan bisa dijadikan referensi pembelajaran. Semoga penulis bisa berkarya lebih baik lagi
BalasHapusSangat membantu. smg bermanfaat.
BalasHapusKeren artikelnya kak. Sangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat untuk kami dalam menambah wawasan kakak, semangat terus dalam berkarya :)
BalasHapusmantap soul, mangat mangat :))
BalasHapusmantap soul, mangat mangat :))
BalasHapusmantap soul, mangat mangat :))
BalasHapusSangat membantu. Lanjutkan dan tetap semangat dalam berkarya. Di tunggu karya selanjutnya
BalasHapusBagus artikelnya, sangat bermanfaat.
BalasHapusSemangat
BalasHapusBerfaedah banget buat nambah wawasan 😁
BalasHapusSangat bermanfaat sekali, di era modern ini sangat jarang ditemukan konten edukasi seperti ini, apalagi sejak viralnya lagu entah apa yang merasukimu
BalasHapusAlhamdulillah semangat ya teman Semoga bermanfaat ilmunya
BalasHapusBagus dek. Kembangkan ilmu kamu, biar orang lain bisa mendapat kan pengetahuan juga
BalasHapusAlhamdulillah, sukses kedepannya kak
BalasHapusALHAMDULILLAH, SEMOGA BERMANFAAT ILMUNYA
BalasHapusSubhanallah, masyaallah, Alhamdulillah, luar biasa, semoga para pembaca bisa lebih luas wawasannya setelah membaca makalah ini
BalasHapusAlhamdulillah ilmu bermanfaat yg didapatkan dari materi yg disampaikan mengenai Studi alquran, insyaallah barokah amin🙏
BalasHapusSangat bermanfaat, dan bisa dijadikan referensi pembelajaran. Semoga penulis bisa berkarya lebih baik lagi
BalasHapusSangat membantu. Lanjutkan dan tetap semangat dalam berkarya. Di tunggu karya selanjutnya
BalasHapusSemangat terus dalam berkarya. Ditunggu karya selanjutnya yang lebih baik lagi.
BalasHapusSukses selalu ya adek Radha, semoga manfaat ilmunya untuk orang lain,��
BalasHapusBagus rad, semangat terus biar makin manfaat ilmunya :)
BalasHapusAlhamdulillah, sangat bermanfaat sekali, apalagi saya sendiri sebagai generasi muda yang semoga bisa mengamalkannya, salam pendidikan!
BalasHapusSangat bermanfaat, menambah pengetahuan untuk dicerna dalam diri sendiri sehingga bisa diamalkan kedepannya
BalasHapusSangat bermanfaat dan membantu sekali. Sukses selalu, semoga karya selanjutnya lebih baik lagi
BalasHapusterima kasih ilmunya semoga kedepannya dapat berkembang lebih baik lagi
BalasHapusMakalahnya sangat membantu kak, Terima kasih saya jadi termotivasi
BalasHapusSemangat kawan..., semoga ilmunya bermanfaat...aamiin
BalasHapusPenulisan isi makalahnya udah bagus, tingkatkan terus yaaa semangatttt :))
BalasHapusSistematika rapi, isi jelas.mantab pun 👍
BalasHapusSmoga berhasil baguss kontenya
BalasHapusTerimakasih ilmu nya, dan tetap semangat
BalasHapusSemoga bermanfaat untuk setiap pembacanya
BalasHapusBagus, semoga bermanfaat tingkatkan teruss. Ditunggu karya karya berikutnya
BalasHapusBagus, semangat terus semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca
BalasHapusSangat bermanfaat, dan bisa dijadikan referensi pembelajaran. Semoga penulis bisa berkarya lebih baik lagi
BalasHapusBarakallah bermanfaat sekali,rapi juga, penjelasannya mudah dipahami, sukses kak😍
BalasHapusTerima kasih ilmunya kak, semoga bermanfaat
BalasHapusJoss rad
BalasHapusBagus,, sangan bermanfaat ,, terimakasih sudah berbahi artikel ini
BalasHapusMengingat kembali sejarah yg diperjuangkan oleh sahabat nabi,semoga bermanfaat bagi umat muslim...
BalasHapusYen atine resik disayang allah
Losht ga rewel
Masyaallah materinya bermanfaat bagi sesamanya. Teruskan bakatmu nakk!!
BalasHapusSangat bermanfaat, dan bisa dijadikan referensi pembelajaran. Semoga penulis bisa berkarya lebih baik lagi
BalasHapusBagus sekali kak semoga bisa membantu bagi pembacanya semangat terus kak
BalasHapusTulisannya sangat bermanfaat sekali bagi saya. Terima kasih ya:)
BalasHapusMasyaAllahh semoga kita selalu belajar akan sejarah2 seperti ini untuk lebih meningkatkan ke imanan kita.. goodjob
BalasHapusMakalahnya sangat bagus. Masukan dari saya jelaskan lebih rinci kapan turunnya Al-Qur'an dan bagaimana proses pengumpulan Al-Qur'an sehingga menjadi suatu kitab umat Islam.
BalasHapusGood job👍🏻👍🏻👍🏻 bagus nih makalahnya.... Makasih ya atas ilmu Yang sudah di bagikan.... Semoga bermanfaat
BalasHapusBagus, semangat terus semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca
BalasHapusSangat bagus, mudah di mengerti, good job Putri💖moga bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat, dan bisa dijadikan referensi pembelajaran. Semoga penulis bisa berkarya lebih baik lagi
BalasHapusWebnya sudah bagus ... namun, semoga kedepannya bisa lebih baguss lagi .semoga ilmunya barokah dan bermanfaat ... semangat terus
BalasHapusBarokallah
BalasHapusSangat bermanfaat
Mudah mudahan tambah baik kedepannya
Sukses dan semangat selalu☺️
Saya menilai dari segi penulisan dan kebahasaan. Masih banyak kata dan tanda baca yang harus diperbaiki EYD nya.
BalasHapusTerimakasih Sudan bagus makalanya Dan sangat membantu bagi orang-orang semoga tambh baik kedepanya sehat selalu. Semangat kawan 😜
BalasHapusGodluck
BalasHapusAlhamdulillah, sangat membantu pengetahuan saya, semoga bermanfaat untuk kitasemuaa, semagattt
BalasHapusSubhanallah,ini sangat bermanfaat bagi kita semua.semoga lebih baik untuk kedepannya ya.semangat...
BalasHapusMantap, penulisannya sangat baik menurut saya. Materi yang dibawa pun sangat menarik untuk dibaca.
BalasHapusalhamdulillah, bisa membantu dalam pengerjaan tugas serta menambah wawasan
BalasHapustabarakallah💖
Alhamt bisa buat referensi maupun baca baca isi nya udh mebcangkuo semua materi
BalasHapus