Langsung ke konten utama

Dakwah Lintas Budaya


DAKWAH TERHADAP MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Radha Putri Awaliyah (B01219047)

Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Abstrak

Indonesia merupakan negara yang kaya akan etnis, suku, budaya, bahasa, dan agama. Secara teologis, keanekaragaman fenomena kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya merupakan kehendak Allah yang harus disikapi dengan penuh kearifan. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam tentang Dakwah Komunikasi Lintas Budaya pada Masyarakat Multikultural. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif beserta kajian literatur yang mendukung. Jika dilihat dari perspektif multikultural, penyampaian pesan-pesan agama atau dakwah meniscayakan seorang da’i memahami keanekaragaman kultural masyarakat dan bersikap positif terhadap keanekaragaman tersebut. Berdakwah secara multikultural berarti berupaya menciptakan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat yang beragam, dan tetap mampu mengendalikan diri serta bertoleransi terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak mungkin disetarakan. Dakwah lintas budaya merupakan sebagai proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan lintas budaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi dengan damai.

Kata Kunci: Dakwah, Masyarakat Multikultural, Lintas Budaya.

Pengertian Multikulturalisme

Multikulturalisme adalah paradigma yang menganggap adanya kesetaraan antar ekspresi budaya yang plural. Multikulturalisme mengusung kesadaran sosial bahwa di dalam ranah kehidupan masyarakat terdapat keragaman budaya. Kesadaran tersebut berdimensi etis yang menuntut tanggung jawab dan terarah pada ortopraksis (tindakan baik dan benar), yang selanjutnya terwujud ke dalam berbagai bentuk penghargaan, penghormatan, perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengakuan akan eksistensi terhadap sesama. Pengertian multikulturalisme yang diberikan para ahli sangat beragam. Multikulturalisme pada dasarnya merupakan pandangan dunia (worldview), selanjutnya diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan kebudayaan, yang menekankan penerimaan terhadap adanya realitas keragaman, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia (worldview), kemudian diwujudkan dalam “politics of recognition”.

Multikulturalisme: Keniscayaan dalam Dakwah Lintas Budaya

Multikulturalisme dalam agama maupun budaya merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Orang yang mengajak agar melestarikan lingkungannya, mencintai dan menyayangi sesama manusia, saling menghargai dan menghormati, kompetisi sehat dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya ternyata bukan hanya monopoli khotbah Sang Pastor di gereja-gereja, nasehat-nasehat mubaligh di podium, para politisi dalam kampanye pemilu atau sikap biksu dan pendeta bijak pada keyakinan serta ajaran-ajaran agama yang berbeda. Sikap saling membela dalam mempertahankan budaya dan tradisi suatu masyarakat tidak hanya monopoli kaum primitif yang hidup di hutan nan jauh dari keramaian kota seperti suku-suku di Papua dan Kalimantan, tetapi hampir setiap masyarakat menyatu dengan budayanya berhak untuk melestarikannya. Pengakuan terhadap keragaman beragama misalnya, tidak bisa dilaksanakan apabila dalam diri seseorang masih ada perasaan curiga dan prasangka buta yang saling menyalahkan bahkan mencaci agama serta kepercayaan yang ada di luar dirinya. Meskipun setiap agama mempunyai landasan doktriner untuk menyebarkan ajarannya, penyebaran tersebut tetap harus dilakukan dalam suasana saling menghormati kepercayaan agama orang lain. Pelaksanaan dakwah yang tidak memperhatikan dan mengindahkan nilai-nilai budaya termasuk tradisi beragama yang dianut masyarakat maka, dakwah tersebut akan ditolak dan segera ditinggalkan umat. Padahal, selain untuk diri sendiri, dakwah dilakukan untuk membimbing umat. Aktivitas dakwah pada era sekarang dituntut melakukan upaya-upaya dan pendekatan-pendekatan dakwah yang lebih bisa mengayomi juga mempertimbangkan budaya-budaya masyarakat tertentu yang berpijak pada nilai-nilai universal kemanusiaan. Dakwah merupakan suatu proses, maka layaknya suatu proses mesti dilakukan dengan cara-cara dan strategi yang lebih terencana, konseptual serta terus-menerus (continue) seraya terus meningkatkan pendekatan-pendekatan yang lebih ramah tanpa mengubah maksud dan tujuan dakwah.

Pengakuan al-Quran Tentang Keragaman

Klaim al-Qur’an bahwa Islam bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin) adalah respons positif bagi perkembangan masyarakat multikultural. Hal ini bukan hanya semata-mata slogan dan respons terhadap kecenderungan modernitas yang mengemuka akhir-akhir ini, tetapi lebih dari itu memiliki landasan doktrin dalam teks-teks Kitab Suci: "Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan Kami pun menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal satu sama lain. Dan sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kalian". Isyarat lain misalnya termaktub dalam ayat yang terjemahannya berbunyi: "...Kalau saja Allah menginginkan, niscaya Dia akan menciptakan manusia sebagai satu bangsa yang monolitik (seragam). Tetapi mereka senantiasa menunjukkan perbedaan”.

Dalam dakwah lintas budaya, keragaman merupakan tantangan da'i agar lebih mampu meramu pesan-pesan dakwah yang lebih bijaksana dengan mempertimbangkan kondisi positif budaya mad'u termasuk di dalamnya mengkondisikan cara-cara dan media yang dianggap dekat dengan ukuran budaya suatu masyarakat. "Ajaklah (mad'u) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (bijaksana; sesuai ruang dan waktu), dengan tauladan (sikap tindak-tanduk dan tutur kata) yang baik, kemudian berdialog/berdebat juga dengan cara yang lebih baik. Salah satu alat yang paling sering digunakan, jika bukan yang paling dominan, digunakan para dai adalah bahasa lisan. Dalam konteks dakwah lintas budaya maka bahasa dakwah pada masyarakat akan lebih tepat mengena tentunya dengan menggunakan bahasa lokal. Tujuannya tidak lain agar lebih mendekati dan memperoleh kesamaan dalam memaknai suatu gagasan. Begitu juga dalam materi dakwah, mengangkat isu politik yang terjadi di Timur Tengah misalnya, kurang tepat dibahas dalam pengajian ibu-ibu di pedesaan sebab tidak memiliki kesinambungan dengan kondisi tingkat kebudayaannya. Mungkin metode dengan memberi contoh tentang praktek shalat dan bersuci misalnya, baik secara materi maupun metode akan lebih mengena bagi masyarakat awam. Begitu seterusnya sesuai konteks budaya dan tingkatan masyarakat yang dihadapi.

Dakwah Lintas Budaya

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, upaya-upaya membangun strategi dakwah yang lebih ramah dan damai, bagi para sarjana dakwah maupun praktisi dakwah khususnya, merupakan perkembangan ijtihad yang sangat signifikan. Suatu upaya renungan integratif antara hati, pikir, dan amal serta apresiasi terhadap perkembangan budaya pada satu sisi dan perkembangan ilmu dakwah pada sisi yang lain, sekecil apa pun mesti dilakukan. Karena dalam telaah dakwah lintas budaya, dakwah tidak hanya dipahami sebagai the transfer of Islamic values (transfer nilai-nilai Islam) yang luhur kepada manusia di bumi, tetapi hendaknya mengupayakan kesadaran nurani agar mengusung setiap budaya positif secara kritis tanpa melihat latar belakang budaya formal suatu masyarakat. Dalam tradisi saling menghormati dan menghargai pada masyarakat misalnya, dengan ucapan salam, permisi, punten, dan merendahkan badan terkadang dipraktekkan silih berganti dan saling mengisi satu sama lain. Hal serupa terjadi pada masyarakat Jawa bahkan orang Jepang, karena sikap-sikap serupa tidak dapat menghapus makna dibaliknya yakni penghormatan atau penghargaan. Inilah kebiasaan Islam yang diharuskan al-Quran untuk dilestarikan: "Waltakun minkum ummatun yad'una ilal-khairi wa ya'muruuna bil-ma'ruf wa yanhauna ‘anil-munkar. (Dan hendaknya ada di antara kalian segolongan umat umat yang menyeru manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah dari segala yang munkar). Usaha-usaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat merupakan kunci utama dalam memahami dakwah lintas budaya. Agama mesti dibedakan dengan budaya meskipun sulit untuk dipisahkan. Mampu membedakan kategorisasi antara agama dan budaya bukan bertujuan untuk membedakannya kemudian memisahkan antara satu dengan lainnya, tapi lebih pada upaya analisis guna memadukan hal-hal positif apa yang ada dalam budaya dan agama pada sisi lain dengan cara pandang dakwah. Sehingga, melalui dakwah lintas budaya menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima di semua lapisan masyarakat, meskipun berbeda sosio-kultural, maupun norma. Metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama, menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat majemuk. Untuk mencapai semua itu, seorang da’i harus mempunyai planning atau rencana yang disebut dengan strategi. Strategi dalam dakwah lintas budaya harus dirancang dengan matang sehingga tujuan dakwah bisa tercapai. Hal ini juga harus dengan mempertimbangkan materi dakwah, maupun metodenya.

KESIMPULAN

Negara Indonesia terbentuk dari berbagai ragam kelompok suku, etnis, budaya, bahasa, agama dan lain-lain. Dengan keragaman tersebut bangsa Indonesia dikatakan sebagai bangsa yang mempunyai "multikultural". Multikulturalisme merupakan paradigma yang menganggap adanya kesetaraan antar ekspresi budaya yang plural. Multikulturalisme mengusung kesadaran sosial kehidupan masyarakat pada keragaman budaya. Kesadaran tersebut berdimensi etis menuntut tanggung jawab terarah pada ortopraksis (tindakan baik dan benar), yang selanjutnya terwujud ke dalam berbagai bentuk penghargaan, penghormatan, perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengakuan akan eksistensi terhadap sesama. Multikulturalisme dalam agama maupun budaya merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Orang mengajak melestarikan lingkungannya, mencintai dan menyayangi sesama manusia, saling menghargai dan menghormati, kompetisi sehat dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Demikan pula dalam dakwah yang dilakukan untuk membimbing umat. Aktivitas dakwah pada era sekarang dituntut melakukan upaya-upaya dan pendekatan-pendekatan dakwah yang lebih bisa mengayomi dan mempertimbangkan budaya-budaya masyarakat dan berpijak pada nilai-nilai universal kemanusiaan. Dakwah merupakan suatu proses, seharusnya dilakukan dengan cara-cara dan strategi yang lebih terencana, konseptual dan terus-menerus (continue) srta meningkatkan pendekatan-pendekatan yang lebih ramah tanpa mengubah maksud dan tujuan dakwah.

DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi, Identitas Dan Krisis Budaya: Membangun Multikulturalisme Indonesia, Bandung: Mizan, 2002.

Darnela, Lindra, Pembelajaran Multikultural: Belajar dari Pengalaman, Jakarta: Jembatan, 2006.

Mulyana, Deddy, Komunikasi Efektif, Suatu Pendekatan Lintas Budaya, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.

Sitaresmi, Ratnayu, Fungsi Fabel untuk Pendidikan Multikultural, Yogyakarta: Resist, 2003.

Suparlan, Parsudi, Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural, Jakarta: Gramedia, 2002.

Tasmara, Toto, Komunikasi Dakwah. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mobilitas Tinggi, Wartawan Istana Dituntut Selalu Memiliki Fisik Prima

( Wawancara door stop pada Menteri Luar Negeri) Surabaya - Istana adalah muara dari semua isu dan segala bidang yang ada di negara, sehingga wartawan di sana harus bisa dengan cepat menyesuaikan diri serta memiliki fisik prima, karena akan sering berlari dan berdesakan. Hal itu disampaikan oleh wartawan istana Bayu Putra saat mengisi W orkshop J urnalistik yang bertajuk "Proses Produksi Berita dan Desain Media Cetak" oleh Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya secara virtual, Kamis (28/10/2021). Bayu mengungkapkan wartawan harus siap fisik demi mempertahankan posisi terutama ketika wawancara door stop , seperti pada saat mewawancarai M enteri L uar N egeri (Menlu) Retno, setelah aktivitas kenegaraan dalam kondisi berpanas-panasan, memakai setelan jas lengkap, dan mau tidak mau harus tetap bertahan , lantaran cukup banyak yang mengincar informasi dari Menlu tersebu...

Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya

DEFINISI SERTA RUANG LINGKUP DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Radha Putri Awaliyah (B01219047) Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya   ABSTRAK Proses Islamisasi di Nusantara yang dilakukan para da’i terdahulu berjalan secara damai, persuasif, dan tanpa kekerasan . Dalam dakwah, komunikasi merupakan kebutuhan dasar, urat nadi serta ciri eksistensi kehidupan manusia. Tanpa komunikasi, manusia akan sulit mengungkapkan isi hati, perasaan, keinginan, pendapat, dan lain-lain. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui definisi serta ruang lingkup Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya . Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif beserta kajian literatur yang mendukung. Dakwah multikultural di ranah komunikasi lintas budaya dapat diartikulasikan sebagai kegiatan dakwah multikultural dengan komunikasi berlandaskan agama (Islam). Sementara, komunikasi lintas budaya diartikan sebag...

Unsur-Unsur Komunikasi Lintas Budaya dalam Berdakwah

UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH Radha Putri Awaliyah (B01219047) Link Referensi Literatur http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/warda/article/download/4546/2624 http://eprints.walisongo.ac.id/3493/3/101211017_Bab2.pdf http://repository.ummat.ac.id/1086/1/COVER-BAB%20III.pdf https://id.scribd.com/document/437007992/Komunikasi-Lintas-Budaya-Atau Link Referensi Video YouTube https://youtu.be/ay-kxo86RFQ https://youtu.be/yVNPEreXAaE https://youtu.be/BlnchO0Pvpo https://youtu.be/mvKTKrLL85c